Pribadi Unggul
menuju Indonesia Jaya
2016-11-23
2016-10-20
Analisa Kebutuhan Diklat tanpa ribet…..(AKD bagi pengelola program)
Karin adalah seorang PNS yang bekerja di sebuah instansi
diklat kesehatan pemerintah. Setelah lebih 10 tahun bekerja disana, ia
menghadapi satu kegelisahan mengenai efektivitas diklat yang dilakukan selama
ini. Diklat yang dilakukan selama bertahun-tahun dirasa belum mampu menjawab
permasalahan-permasalahan kesehatan diwilayah kerjanya. Jikapun
ada perubahan kinerja, ia pun tidak yakin bahwa peningkatan tersebut akibat
dari pelatihan yang dilakukan oleh instansinya.
Selama ini, penentuan perencanaan pelatihan dihasilkan dari
rapat tahunan untuk menentukan rencana diklat di tahun depan. Cara ini tidak
bisa diterima oleh fikiran Karin. Baginya, perlu ada sebuah analisa yang fokus
untuk menentukan pelatihan apa yang benar-benar dibutuhkan untuk meningkatkan
kemampuan PNS dalam bekerja.
Suatu saat, anggaran untuk melakukan Analisa Kebutuhan
Diklat tersedia. Dalam benaknya AKD haruslah bersifat ilmiah, dengan survey dan
instrumen yang lengkap dan data yang banyak. Namun setelah AKD yang berbiaya
besar itu selesai dilaksanakan, ia masih merasa belum pas dengan metode yang
digunakan.
Untuk melakukan AKD, memang gampang-gampang susah. Dikatakan
gampang, karena AKD itu sendiri hanya berusaha untuk mencari gap atau selisih
kinerja real dengan kinerja seharusnya. Dikatakan sulit, karena sudah terpikir
membuat instrumen, melakukan survey, dan bagaimana hal itu bisa mengerucut
menjadi kesimpulan kebutuhan diklat.
Dari cerita di atas, penulis
mencoba membuat suatu langkah-langkah melaksanakan AKD dengan mudah.
Langkah 1.
Mengumpulkan data masalah (gap)
Lakukan pengumpulan data pencapaian program dari tahun
sebelumnya, bisa melalui data pencapaian SPM (Standar Pelayanan Minimal) atau
masalah-masalah program yang terangkat dipermukaan.
Contoh data pencapaian spm program.
No.
|
Indikator Kinerja
|
Capaian tahun 2015 (%)
|
Target
(%)
|
GAP
(%)
|
1
|
Balita
yang naik berat badannya (N/D)
|
62,43
|
80
|
17,57
|
2
|
Balita
BGM
|
3,60
|
5
|
1,4
|
3
|
Cakupan
balita mendapat kapsul vit. A 2x setahun
|
76,23
|
90
|
13,77
|
4
|
Cakupan
ibu hamil mendapatkan 90 tablet fe
|
74,12
|
90
|
15,88
|
5
|
Cakupan
pemberian makanan pendamping ASI pada bayi BGM pada keluarga miskin
|
100
|
100
|
0
|
6
|
Balita
gizi buruk mendapatkan perawatan
|
100
|
100
|
0
|
7
|
Cakupan
WUS yang mendapatkan kapsul yodium
|
90
|
90
|
0
|
Langkah 2. Menentukan penyebab masalah kinerja
menggunakan analisa manajemen
No.
|
Masalah kinerja
|
Fasilitas/sarana /bahan
|
Dana
|
Pedoman
/SOP
|
SDM
|
||||||||
Motivasi
|
Lingkungan kerja
|
Kemampuan
|
|||||||||||
M
|
TM
|
A
|
T
|
A
|
T
|
B
|
K
|
B
|
K
|
B
|
K
|
||
1
|
Balita yang naik berat
badan
|
v
|
-
|
v
|
-
|
v
|
-
|
-
|
v
|
-
|
v
|
v
|
-
|
2
|
Balita BGM
|
v
|
-
|
v
|
-
|
v
|
-
|
v
|
-
|
-
|
v
|
v
|
-
|
3
|
Cakupan balita vit. A
|
v
|
-
|
v
|
-
|
v
|
-
|
v
|
-
|
v
|
-
|
-
|
v
|
4
|
Cakupan ibu hamil mendapat
tablet Fe
|
v
|
-
|
v
|
-
|
v
|
-
|
v
|
-
|
-
|
v
|
-
|
v
|
Keterangan:
M = memadai
TM = tidak memadai
A = ada
T = tidak ada
B = baik
K = kurang
Kumpulkan data melalui brainstorming
ataupun FGD (Focus Group Discussion). Dari tabel di atas dapat disimpulkan
masalah kinerja yang harus dilakukan melalui intervensi pelatihan adalah:
·
Motivasi
·
Budaya kerja
·
Cakupan balita vitamin A
·
Cakupan ibu hamil mendapat tablet Fe
Langkah 3. Mengidentikasi gap kemampuan lewat alur proses
Buat alur proses kegiatan. Anda dapat
mengambilnya dari Standar Prosedur Operasional. Kemudian anda kumpulkan data
melalui FGD atau survey.
Instruksi Kerja / SOP
Pemberian zat besi pada ibu hami
|
Kemampuan
|
|
Baik
|
Kurang
|
|
1. Periksa konjungtiva pasien, untuk menentukan pasien anemis atau
tidak.
2. Catat hasil pemeriksaan dalam kartu status dan KMS ibu hamil.
3. Isi form pemeriksaan laboratorium.
4. Jelaskan pada pasien tujuan dari pemeriksaan.
5. Jelaskan pada pasien, untuk membayar biaya pemeriksaan
laboratorium di kasir sebelum
kelaboratorium dan setelah selesai pemeriksaan membawa hasil pemeriksan
kembali ke unit pelayanan kesehatan ibu.
6. Rujuk ke unit pelayanan gizi, jika hasil pemeriksaan Hb < 11 gr %
7. Beri tablet zat besi pada semua ibu hamil, sedikitnya 1 tablet /
hari, selama 30 hari berturut-turut
untuk pasien hamil pada trimester I, sedangkan untuk ibu hamil
dengan anemia diberikan tablet zat besi dan vitamin C tiga kali satu tablet
perhari ( 3 X 1 ) , hal ini sangat
tergantung dengan persediaan obat yang ada
8. Jika tablet zat besi persediaan
habis, maka akan diberikan
resep luar
9. Beri penyuluhan gizi pada semua ibu hamil disetiap kunjungan ANC, tentang perlunya
minum tablet zat besi dan vitamin C, serta menghindari minum teh / kopi /
susu dalam 1 jam sebelum / sesudah makan, karena dapat mengganggu penyerapan
zat besi.
|
V
V
V
V
V
|
V
V
V
V
|
Kesimpulan:
Poin 6-9 adalah bagian dari perlu menjadi
materi pelatihan.
Langkah 4. Merumuskan hasil
Masukkan data di
langkah sebelumnya ke dalam tabel berikut;
No
|
Tema Pelatihan
|
Sasaran
|
Materi
Pelatihan
|
1
|
Pelatihan motivasi
|
Nakes
|
|
2
|
Pelatihan Budaya Kerja
|
Nakes
|
|
3
|
Pelatihan
pemberian vit. A
|
Dokter, Bidan, Gizi
|
|
4
|
Pelatihan
pemberian Fe kepada ibu hamil
|
Dokter, Bidan,
Gizi
|
Rujukan,
peresepan, penyuluhan
|
Demikian cara
sederhana untuk melakukan Analisa Kebutuhan Diklat di Instansi Diklat Kesehatan
di Daerah. Semoga Bermanfaat.
Anda dapat diskusi
lebih lanjut mengenai artikel ini dengan menghubungi telp/WA 081381414140
(alfred).
Langganan:
Postingan (Atom)